Tuesday, 28 April 2015

Pemetaan Agroekologi

#Pemetaan Agroekologi
Dalam rangka menunjang perkembangan pemanfaatan lahan da‑ lam bidang pertanian, dalam Repelita III telah dilaksanakan penelaahan kemampuan fisika dan kimia tanah. Selama masa itu telah diadakan evaluasi terhadap potensi 188 juta ha tanah di seluruh wilayah Indonesia. Dalam periode yang sama telah die‑ valuasi 5,87 juta ha lahan di 18 propinsi, di lokasi-lokasi yang direncanakan akan menjadi areal penerimaan transmigrasi. Selain itu telah dilaksanakan pula survai dan pemetaan tanah untuk menunjang pembangunan pertanian tadah hujan, pembangunan pabrik gula, pendayagunaan daerah rawa dan pasang surut, pe­ngembangan Daerah Aliran Sungai (DAS) dan reklamasi tanah kri- tis. Selanjutnya, juga telah dilaksanakan perencanaan tata guna tanah bagi kepentingan pengembangan perkebunan dan pe­ngembangan pertanian tanaman pangan. 

Dalam Repelita III kegiatan pemetaan penggunaan lahan dan vegetasi tingkat makro telah dilaksanakan untuk areal seluas 193 juta ha, sedangkan pemetaaan tingkat tinjau skala 1 : 100.000 telah mencakup areal seluas 29,5 juta ha, dan pemeta­an tingkat detail skala 1 : 20.000 meliputi areal seluas 2,2 juta ha. 

Pemetaan vegetasi dan kawasan hutan 
Pemetaan melalui penafsiran potret udara dalam Repelita I yang berskala 1 : 100.000 meliputi areal seluas 148.000 ha, yang berskala 1 : 60.000 meliputi areal seluas 6.619.506 ha, dan yang berskala 1 : 20.000 meliputi areal seluas 981.274 ha. Dalam Repelita II yang berskala 1 : 100.000 meliputi areal 4.248.725 ha, yang berskala 1 : 60.000 meliputi areal seluas 3.530.428 ha dan yang berskala 1 : 20.000 meliputi areal seluas 223.400 ha. Dan dalam Repelita III mencapai 49.879.282 ha untuk yang berskala 1 : 100.000, 500.854 ha un­tuk yang berskala 1 : 60.000 dan 468.546 ha untuk yang berska-la­ 1 : 20.000. Sedangkan dalam tahun pertama Repelita IV ha- sil sementaranya adalah 4.143.120 ha untuk yang berskala 1 : 100.000 dan 429.499 ha untuk yang berskala 1 : 20.000. 

#Pemetaan kemampuan tanah 
Kegiatan-kegiatan pemetaan penggunaan tanah pedusunan dan perkotaan, pemetaan kemampuan tanah, pemetaan penggunaan ta­nah detail dan revisi pemetaan penggunaan tanah, merupakan rangkaian kegiatan di bidang pengembangan tataguna tanah. 

Selama Repelita I, II dan III telah dilaksanakan pemetaan penggunaan tanah pedesaan yang meliputi areal seluas 39,06 juta ha dengan skala 1 : 200.000 sampai 1 : 12.500, dan peme­taan kemampuan tanah untuk pertanian seluas 89,81 juta ha de­ngan skala 1 : 100.000 sampai 1 : 12.500. Di samping itu da­lam periode yang sama telah dapat diselesaikan juga pemetaan penggunaan tanah kota di 361 kota kabupaten/kotamadya dengan skala 1 : 10.000 dan 90 kota dengan skala 1 : 5.000. Selama Repelita II dan III pemetaan penggunaan tanah kota kecamatan diselesaikan sebanyak 568 kota kecamatan dengan skala
1 : 5.000. 

Sedang dalam tahun 1984/85 pemetaan penggunaan tanah desa meliputi areal seluas 9,36 juta ha dengan skala 1 : 50.000 sampai 1 : 1.000, pemetaan kemampuan tanah untuk pertanian seluas 1,12 juta ha dengan skala 1 : 25.000 dan pemetaan penggunaan tanah kota di 41 kota dengan skala 1 : 5.000 serta pemetaan penggunaan tanah kota kecamatan sebanyak 214 kota kecamatan berskala 1 : 5.000. 

Kegiatan lainnya meliputi pengukuran dan pemetaan skala besar yang meliputi pemetaan topografi, penggunaan tanah, ke­mampuan tanah, gambaran umum status tanah, kerapatan pohon, analisa tata guna tanah, yang kesemuanya dilaksanakan dalam rangka menunjang program transmigrasi. Dalam Repelita II dan III telah dapat diselesaikan pengukuran dan pemetaan tata gu­na tanah daerah transmigrasi seluas kurang lebih 2,88 juta ha yang tersebar di 18 propinsi dengan skala 1 : 5.000. Sedang dalam tahun 1984/85 dapat diselesaikan pengukuran dan pemeta­an tata guna tanah daerah transmigrasi seluas, 401.902 ha de­ngan skala yang sama. 

#Inventarisasi dan penatagunaan sumber daya alam dan peme­taan ekosistem. 
Dalam periode Repelita III telah dilaksanakan survai sum­ber daya regional untuk memperoleh informasi mengenai sumber daya tanah, hutan, iklim dan kependudukan di Sumatera dan Su­lawesi. Kegiatan ini merupakan realisasi sasaran yang dikem­bangkan dalam Repelita III dan akan terus dikembangkan dalam Repelita IV. Seluruh informasi yang diperoleh telah disusun dalam suatu sistem informasi sumber daya alam. Keseluruhan informasi sumber daya alam ini telah pula dihimpun dalam atlas sumber daya nasional. 

Pelaksanaan inventarisasi hutan ditempuh melalui survai udara dengan penginderaan jauh "multi stage" dengan menggunakan citra satelit dan penafsiran potret udara dengan berbagai skala, diikuti dengan survai lapangan dan inventarisasi ter­restris, atau pengumpulan data secara langsung di lapangan, dengan berbagai metode sesuai dengan kebutuhan data dan infor­masi yang diinginkan. Sejalan dengan kebijaksanaan pembangun­an Kehutanan dalam Repelita I, II dan III, khususnya dalam rangka peningkatan produksi hasil hutan, maka kegiatan ini dititik beratkan pada survai lapangan dan survai udara. 

Inventarisasi hutan melalui survai lapangan yang dilaksa­nakan dalam Repelita I telah mencapai areal seluas 32,83 juta ha, dalam Repelita II mencapai 27,74 juta ha dan kemudian da-lam Repelita III mencapai 19,97 juta ha. Pelaksanaan inventa­risasi melalui survai udara dalam Repelita I mencakup areal seluas 22,50 juts ha, Repelita II mencapai 22,69 juta ha dan Repelita III 5,03 juta ha. 

Kegiatan inventarisasi hutan melalui penafsiran potret udara dengan skala 1 : 100.000 baru dimulai dalam Repelita II dan meliputi areal seluas 18.960.000 ha. Dalam Repelita III kegiatan tersebut meningkat: untuk skala 1 : 100.000 mencapai 33.700.000 ha, untuk skala 1 : 60.000 mencapai 136.854 ha dan untuk skala 1 : 20.000 mencapai 2.200.000 ha. Kegiatan inven- ­tarisasi hutan melalui penafsiran citra satelit baru dimulai ada Repelita III dengan luas 17.200.000 ha. 

Sasaran kegiatan inventarisasi hutan yang akan diselesai­kan dalam Repelita IV adalah 95 juta ha. Dalam tahun 1984/85 kegiatan inventarisasi hutan seluas 22 juta ha telah disele­saikan. 

Dalam Repelita III pemantapan hasil tataguna hutan kese­pakatan (indikatif) dan Penatagunaan Hutan (Definitif) telah dilaksanakan di 22 propinsi di luar P. Jawa. Usaha itu dilak-sanakan dengan penataan batas luar kawasan hutan tetap sepan­jang 80.000 km dan batas fungsinya sepanjang 105.000 km. Da-lam tahun 1984/85 telah dilaksanakan penataan batas luar ka­wasan hutan sepanjang 5,39 ribu km. 

Inventarisasi dan eksplorasi mineral logam, mineral bukan logam dan batubara di negara kits telah banyak dilakukan di berbagai tempat. Beberapa jenis mineral telah ditemukan, mi­salnya, tembaga, timbal, sang, perak, emas, timah, air raksa, besi, khromit, wolfrom, mangan, tufit, pirofilit. Demikian pula eksplorasi batubara telah dilaksanakan di daerah Ombilin, Bukit Asam dan Kalimantan Timur. Hasil eksplorasi tersebut menunjukkan bahwa cadangan batubara Ombilin adalah sekitar 78,9 juta ton, cadangan batubara Bukit Asam berjumlah sekitar 511,5 juta ton, dan cadangan batubara daerah Kalimantan Timur yang dihitung sampai kedalaman 300 m berjumlah lebih kurang 800 juta ton. 

#Pendidikan dan Latihan, Penelitian dan Teknologi 
Guna meningkatkan produktivitas pemetaan dasar, dalam periode Repelita III telah dididik 248 orang tenaga ahli foto­grammetri dan kartografi dan 92 orang tenaga teknisi yang te­rampil. Dalam tahun 1984/85 telah dididik sebanyak 29 tenaga teknisi. Dengan tambahan tenaga sebanyak itu diharapkan dalam Repelita IV pembuatan peta dapat ditingkatkan. 

Kegiatan penelitian di bidang kehutanan dalam rangka me­nunjang inventarisasi dan tata guna hutan sampai saat ini te­lah menghasilkan berbagai data di bidang kehutanan. Antara lain telah diperoleh berbagai. informasi mengenai jenis pohon ekspor dan mengenai berbagai jenis tanaman yang cocok untuk reboisasi, penghijauan dan rehabilitasi padang alang-alang. Misalnya, dari 259 jenis botanis kayu perdagangan Indonesia telah diteliti sifat-sifatnya secara lengkap sebanyak 150 je­nis. Atas dasar data yang diperoleh, antara lain, telah disu­sun sejumlah pedoman untuk mengenai berbagai jenis pohon eks­por. 

Penelitian mengenai kesuburan dan produktivitas tanah ser­ta konservasi tanah dan air yang dilakukan telah mengungkap­kan bahwa banyak lahan yang disediakan untuk perluasan areal pertanian ternyata merupakan tanah-tanah masam, miskin hara dan tanah tererosi. Penelitian yang lain telah dapat membantu mendapatkan teknologi usaha tani sederhana yang mampu mening­katkan hasil dengan memperhatikan kelestarian lingkungan dan tingkat biaya yang sesuai dengan kemampuan petani. 

Dalam Repelita III telah diadakan penelitian geologik me­ngenai sumber daya mineral dan air tanah serta potensi panas bumi untuk memperoleh gambaran tentang deposit, volume, garis potensi cadangan dan lokasinya. Di samping telah diadakan pe­nelitian geologik tentang tata kota dan tata daerah dengan tujuan mempelajari kemungkinan pemanfaatan sumber-sumber daya alam yang tersedia. Penelitian itu juga dimaksudkan untuk me­nemukan jalan guna menghindari akibat negatif di daerah peng­galiannya dalam rangka perencanaan pengembangan daerah. Selan­jutnya, telah dilakukan pula penelitian geofisika kelautan di wilayah Barat perairan Indonesia, yang tujuannya mencari en­dapan mineral timah dan mineral berat lainnya. Tambahan pula selama Repelita III juga telah dilaksanakan penelitian geofi-sika di Sumatera, meliputi areal seluas 9.691 km2, areal ter-sebut telah dipetakan dengan skala 1 : 500.000.

Dalam Repelita III berbagai penelitian hidrogeologik dan konservasi air tanah telah dilakukan dalam rangka melayani dan menjamin kelestarian potensi air tanah untuk suatu kota dan atau daerah pemukiman. Kegiatan ini mencakup kegiatan pe­- metaan hidrogeologik bersistem, evaluasi potensi air tanah dan pengembangan kemampuan konservasinya.

Note: only a member of this blog may post a comment.