Dalam Repelita I dan Repelita II telah dilakukan pemetaan dasar nasional di Kalimantan Barat dan Sumatera. Kegiatan ini dilanjutkan dalam Repelita III. Pada tahun 1982 seluruh Indonesia telah selesai dipotret dari udara secara sistematis dalam rangka pemetaan topografi (dasar) nasional.
Dalam Repelita II dan Repelita III dilaksanakan survai geodesi di Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara serta Irian Jaya. Survai itu bertujuan untuk menentukan titiktitik kontrol geodesi. Dalam periode yang sama telah dibuat peta topografi skala 1 : 50.000 untuk wilayah-wilayah Sumate-ra, Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya. Untuk menunjang ke‑ giatan itu telah dilakukan pengukuran sifat datar teliti ser- ta pemotretan udara skala 1 : 100.000, dan skala 1 : 50.000 atau 1 : 60.000.
Untuk memungkinkan tercapainya hasilguna yang tinggi da-lam pemetaan, dalam Repelita III telah diterapkan metode survai bertahap dengan mempergunakan potret panchromatic dan potret infra merah berwarna semu. pemotretan untuk survai bertahap tersebut dilaksanakan secara sekaligus dengan mempergunakan kamera ganda. Dengan penerapan teknologi tersebut maka sebagian besar gangguan iklim dan cuaca terhadap kegiatan pemotretan dapat ditanggulangi karena potret infra merah berwar- na semu tidak terganggu cuaca berawan ataupun kabut. Untuk melengkapi potret-potret udara yang sudah dibuat sebelumnya, dalam tahun 1983/84 dilakukan pemotretan di Kalimantan, khusus untuk daerah seluas 476.875 ha yang sebelumnya belum ber-hasil dipotret.
Pembuatan peta dasar yang telah diselesaikan seluruhnya sampai akhir Repelita III meliputi Sumatera dan Jawa, dengan skala 1 : 50.000, dan Kalimantan dan Irian Jaya, dengan skala 1 : 100.000, dan untuk seluruh Indonesia, dengan skala 1 : 20.000. Dewasa ini pemetaan untuk daerah Kalimantan dan Irian Jaya dengan skala 1 : 50.000 masih dalam penyelesaian.
Dalam rangka pemetaan dasar dilaksanakan pula survai penegasan batas internasional di darat. Penegasan batas dengan Malaysia di lakukan di Kalimantan dengan perbatasan yang panjangnya 120 km, dan dengan Papua New Guinea di Irian yang panjangnya 250 km. Dalam tahun 1984/85 telah, diselesaikan batas dengan Malaysia sepanjang 95 km dan Papua New Guinea sepanjang 26 km.
Proses pembuatan peta dasar membutuhkan waktu yang sangat lama, sehingga seringkali diperlukan upaya darurat untuk memenuhi kebutuhan akan informasi mutakhir. Upaya itu antara lain dilakukan dengan cara membuat peta yang berfungsi sebagai peta tematik atau peta ortofoto tanpa menunggu selesainya peta dasar. Peta tersebut merupakan terjemahan langsung dari potret udara ke dalam bentuk peta.
Seperti tahun-tahun sebelumnya, dalam tahun 1983/84 telah dilaksanakan pembuatan peta tematik untuk menunjang program transmigrasi. Dalam tahun itu telah dilaksanakan pula pemotretan 36 pelabuhan udara di seluruh Indonesia. Dalam tahun 1984/85 kegiatan pembuatan peta tematik masih dilanjutkan.
Selain pemetaan dasar wilayah darat, seperti yang telah diuraikan terdahulu, sejak tahun 1978/79 juga telah dilaksanakan pemetaan dasar wilayah laut di sekitar Sumatera. Peta dasar yang dihasilkan berupa peta dasar hidrografi, peta dasar magnetik dan peta aeronautika.
#Pemetaan Geologi dan Hidrogeologi
Pemetaan geologi, geofisika dan hidrogeologi bersistem telah dilaksanakan sejak tahun pertama Repelita I di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Dalam Repelita III pembuatan peta geologi dan geofisika bersistem skala 1 : 100.000 untuk Jawa dan Madura masing-masing telah mencapai 93,8% dan 47,4% dari seluruh peta yang harus diselesaikan. Dalam tahun 1984/85 pemetaan tersebut telah terselesaikan masing-masing 100% dan 51,7%. Pembuatan peta yang lama berskala 1 : 250.000 untuk daerah di luar kedua pulau tersebut dalam Repelita III telah selesai masing-masing 54,6% dan 18,2% dari seluruh peta yang harus diselesaikan, dan dalam tahun 1984/85 dapat terselesaikan masing-masing 60,2% dan 19%. Kegiatan pemetaan hidrogeologi (air tanah) bersistem dengan skala 1 : 250.000 untuk wilayah Indonesia seluruhnya, yang dilaksanakan sejak permulaan Repelita I sampai dengan tahun 1983/84, telah mencapai 33,5% dari seluruh peta yang harus diselesaikan. Pembuatan peta itu pada tahun 1984/85 telah selesai 37,9%. Dalam tahun 1984/85 pembuatan peta hidrogeologi bersistem yang telah selesai meliputi daerah Jawa, Madura, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Timor (NTT), Sumba dan sebagian Sumatera dan Sulawesi. Pembuatan peta hidrogeologi Indonesia berskala 1 : 2.500.000 telah selesai seluruhnya dan sudah dicetak pada tahun 1983.
#Pemetaan Geologi dan Hidrogeologi
Pemetaan geologi, geofisika dan hidrogeologi bersistem telah dilaksanakan sejak tahun pertama Repelita I di berbagai daerah di seluruh Indonesia. Dalam Repelita III pembuatan peta geologi dan geofisika bersistem skala 1 : 100.000 untuk Jawa dan Madura masing-masing telah mencapai 93,8% dan 47,4% dari seluruh peta yang harus diselesaikan. Dalam tahun 1984/85 pemetaan tersebut telah terselesaikan masing-masing 100% dan 51,7%. Pembuatan peta yang lama berskala 1 : 250.000 untuk daerah di luar kedua pulau tersebut dalam Repelita III telah selesai masing-masing 54,6% dan 18,2% dari seluruh peta yang harus diselesaikan, dan dalam tahun 1984/85 dapat terselesaikan masing-masing 60,2% dan 19%. Kegiatan pemetaan hidrogeologi (air tanah) bersistem dengan skala 1 : 250.000 untuk wilayah Indonesia seluruhnya, yang dilaksanakan sejak permulaan Repelita I sampai dengan tahun 1983/84, telah mencapai 33,5% dari seluruh peta yang harus diselesaikan. Pembuatan peta itu pada tahun 1984/85 telah selesai 37,9%. Dalam tahun 1984/85 pembuatan peta hidrogeologi bersistem yang telah selesai meliputi daerah Jawa, Madura, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Timor (NTT), Sumba dan sebagian Sumatera dan Sulawesi. Pembuatan peta hidrogeologi Indonesia berskala 1 : 2.500.000 telah selesai seluruhnya dan sudah dicetak pada tahun 1983.
Note: only a member of this blog may post a comment.